Notification

×

Iklan

Iklan

Tips Puasa Ramadhan Bagi Penderita Jantung Koroner

Tuesday, 25 March 2025 | 20:37 WIB Last Updated 2025-03-25T13:37:36Z
"Dosen Prima Trisna Aji ketika memberikan penjelasan tentang Penyakit Jantung Koroner"/Foto : Tribun News Sumsel


RADARDETIK.ID - Penyakit jantung koroner menyebabkan sumbatan pada pembuluh darah jantung besar manusia, yang menghambat aliran darah ke jantung dan menyebabkan kekurangan oksigen.  Penyakit jantung koroner menduduki peringkat pertama penyebab kematian di Indonesia, menurut data Kemenkes (2022).  Kasus kematian akibat penyakit jantung koroner terus meningkat setiap tahunnya.


 Ini didasarkan pada data tahunan. Dari tahun 2021 hingga 2022, ada peningkatan 1,99 juta kasus, dan pada tahun-tahun berikutnya, 2023 dan 2024, ada peningkatan lebih dari 2,5 juta kasus.


Hal ini pasti mengkhawatirkan, dan itu bisa menjadi fenomena gunung es yang dapat meledak kapan saja.  Banyak kematian mendadak yang disebabkan oleh penyakit jantung koroner. Beberapa kasus termasuk Suami Bunga Citra Lestari (BCL) Ashraf Sinclair yang meninggal karena serangan jantung setelah bermain olahraga malam, artis Adji Massaid yang meninggal karena serangan jantung setelah bermain futsal, Pelatih AREMA FC Suharno yang meninggal karena serangan jantung setelah mendampingi tim Arema Malang latihan sore, dan yang terbaru pada bulan Februari adalah seorang atlet yang meninggal karena serangan 


Banyak kematian cepat tersebut disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang risiko serangan jantung dan pertolongan pertama.   Dari data Analisis Pendidikan Kesehatan (2024), tingkat pengetahuan masyarakat tentang penyakit jantung, termasuk tentang pasien penderita jantung, masih rendah.  Kurangnya pengetahuan ini dapat menyebabkan kesulitan untuk mengidentifikasi gejala penyakit jantung dan kurangnya kesadaran pencegahan.  Ini didukung oleh hasil penelitian, yang menunjukkan bahwa 45,4% responden tidak tahu banyak tentang penyakit jantung koroner.


Penderita penyakit jantung koroner tidak berani berpuasa Ramadhan tahun 2025 karena mereka tidak tahu tentang penyakit jantung koroner.  Penderita jantung koroner tidak hanya takut penyakitnya akan semakin parah, tetapi mereka juga tidak berani mengambil risiko berpuasa karena tidak tahu tentang penyakitnya.  Ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan di Jumapolo Karanganyar (2025) yang menunjukkan bahwa 85% penderita jantung koroner tidak berani berpuasa Ramadhan karena mereka tidak tahu pantangan penyakitnya.


Ini penting untuk diingat bahwa penderita jantung koroner yang tetap stabil dan tidak mengalami komplikasi masih boleh berpuasa Ramadhan. Namun, penderita jantung koroner juga harus mematuhi aturan puasa khusus untuk penderita jantung koroner agar tidak membahayakan jiwa mereka atau mempercepat komplikasi penyakit mereka.


Puasa sangat membantu orang yang menderita penyakit jantung koroner, menurut beberapa penelitian terbaru.  Dalam penelitian yang dilakukan selama sepuluh tahun di Qatar, 2.160 pasien dengan gagal jantung diperiksa tentang kondisi fisik mereka selama berpuasa Ramadhan. Hasilnya menunjukkan bahwa berpuasa tidak berdampak buruk pada kesehatan jantung dan organ lain.  Ternyata puasa juga dapat membantu penderita penyakit jantung memaksimalkan kebugaran mereka.  Studi lain juga menunjukkan bahwa puasa dapat menurunkan kadar kolesterol hingga tiga puluh hingga empat puluh persen pada beberapa pasien, serta dapat mengontrol kadar lemak secara keseluruhan dan efektif menurunkan risiko komplikasi penyakit jantung koroner. 


Dilaporkan juga bahwa status gizi pasien penyakit jantung menjadi lebih baik.  Perubahan pola makan selama bulan Ramadan dapat bermanfaat bagi pasien penyakit jantung karena pengaruh kesehatan jantung mereka.  Selama berpuasa, mereka lebih dapat mengontrol dan mengatur apa yang mereka makan setiap hari, terutama saat berbuka puasa dan sahur.


Menurut penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal Circulation (2019), orang yang berpuasa secara teratur memiliki risiko 71% lebih rendah untuk mengalami gagal jantung.  Mereka juga lebih jarang mengalami serangan jantung.  Akibatnya, setelah bulan Ramadhan berakhir, pasien yang menderita penyakit jantung koroner diharapkan dapat mempertahankan pola hidup sehat dengan berpuasa.


Selama bulan Ramadhan, penderita jantung koroner harus berhati-hati dan mengikuti pola makan yang sehat.  Makanan yang mengandung banyak kalium, seperti pisang, jeruk, melon, blewah, terong, mentimun, dan sayuran hijau, dapat menurunkan efek natrium atau garam pada tekanan darah.  Namun, orang yang menderita gagal ginjal kronis harus berhati-hati saat makan buah-buahan dan sayuran saat berbuka puasa dan sahur.


Untuk penderita hipertensi, diet garam sangat penting karena garam dapat meningkatkan tekanan darah dengan cepat. Mereka yang menderita hipertensi tidak disarankan untuk mengonsumsi makanan bergaram tinggi, baik saat sahur maupun berbuka. Dosis garam setiap hari harus dikurangi menjadi kurang dari 2 gram, atau sekitar satu sendok teh.   Sumber serat yang sangat baik, biji-bijian utuh dan gandum dapat membantu menjaga tekanan darah dan kesehatan jantung Anda.   Makanan sahur dan berbuka puasa yang cocok untuk penderita jantung koroner juga ada di menu ini.


Mengurangi konsumsi lemak jenuh dan lemak trans saat berbuka dan sahur juga membantu menjaga tingkat kolesterol dalam tubuh.   Penderita jantung koroner memiliki risiko lebih tinggi untuk penyakit jantung atau stroke karena plak yang terbentuk di pembuluh darah mereka karena kolesterol yang tinggi.  


Penderita jantung koroner harus mengonsumsi protein rendah lemak seperti daging tanpa kulit atau lemak, ikan, telur, kacang kedelai, tahu, tempe, dan susu skim rendah lemak untuk mencegah kolesterol naik. Minyak zaitun, almond, minyak zaitun, dan canola juga baik untuk dikonsumsi.   Untuk penderita hipertensi, membatasi konsumsi kafein seperti kopi, teh, dan minuman bersoda dapat membantu mengurangi kekambuhan penyakit jantung koroner.


Selama bulan Ramadhan, orang yang menderita penyakit jantung koroner dapat berolahraga di pagi hari, asalkan intensitasnya ringan, seperti jalan kaki. Namun, hati-hati karena gula darah rendah menjelang berbuka puasa. Waktu yang tepat untuk berolahraga adalah dua jam setelah berbuka puasa.  Namun, disarankan untuk tidak melakukan olahraga pada malam hari karena tubuh lelah dan kurang oksigen.


Makan lebih sedikit selama bulan puasa dan jangan melakukan "balas dendam" saat berbuka puasa.  Kemudian jangan makan gorengan atau makanan cepat saji yang banyak garam dan berlemak.   Untuk menjaga kesehatan jantung Anda, perbanyak sayuran dan buah-buahan, serta biji-bijian dan makanan berserat lainnya.  Untuk menghindari dehidrasi, pastikan untuk minum cukup air setiap hari dan tidur dengan cukup jika Anda mengalami gagal jantung.


Jika Anda mengalami gejala dan tanda-tanda berikut: sesak nafas, lemas, mata berkunang-kunang, pingsan, jantung berdebar, keringat dingin, atau tanda-tanda hipotensi atau krisis hipertensi, Anda harus segera berhenti makan dan pergi ke dokter spesialis jantung untuk pemeriksaan lebih lanjut.


Penulis : Prima Trisna Aji

Dosen prodi Spesialis Medikal Bedah 

Universitas Muhammadiyah Semarang



×
Berita Terbaru Update